Skip to content

Instantly share code, notes, and snippets.

@Raviyanto
Created May 7, 2025 11:46
Show Gist options
  • Select an option

  • Save Raviyanto/46a7bc8bb76b2bcacbbbec7b1792d3dd to your computer and use it in GitHub Desktop.

Select an option

Save Raviyanto/46a7bc8bb76b2bcacbbbec7b1792d3dd to your computer and use it in GitHub Desktop.
Bab 7

Bab 7: Pidato Sokrates - Bagian 1

Setelah pujian Agaton yang begitu indah dan berbunga-bunga untuk Eros, semua mata kini tertuju pada Sokrates. Dia dikenal dengan cara berpikirnya yang kritis dan sering kali berbeda. Apakah dia akan setuju dengan gambaran Eros yang sempurna ala Agaton?

Ternyata, Sokrates memulai dengan gayanya yang khas: bertanya, bukan langsung berpidato. Dia memuji pidato Agaton sebagai pidato yang hebat, tetapi kemudian dengan santai dia mulai "menguji" argumen Agaton lewat serangkaian pertanyaan.

"Agaton," kata Sokrates, "kamu tadi mengatakan bahwa Eros itu adalah cinta akan sesuatu yang indah, dan bahwa Eros itu sendiri adalah indah dan baik, kan?"

"Benar," jawab Agaton.

"Tetapi," lanjut Sokrates, "bukankah seseorang hanya menginginkan atau mencintai sesuatu yang tidak dia miliki? Kalau dia sudah memilikinya, buat apa lagi dia menginginkannya?"

Agaton pun setuju dengan logika ini.

Dari sini, Sokrates dengan lihai menunjukkan adanya masalah dalam argumen Agaton. Jika Eros adalah cinta akan keindahan, dan cinta itu adalah hasrat akan sesuatu yang belum dimiliki, bagaimana mungkin Eros sendiri bisa memiliki keindahan itu?

Logikanya, Eros pasti kekurangan keindahan. Jadi dia tidak mungkin indah seperti yang Agaton gambarkan. Begitu juga dengan kebaikan. Agaton pun akhirnya mengakui bahwa pandangannya tadi mungkin kurang tepat.

Setelah membongkar argumen Agaton, Sokrates kemudian mengaku bahwa dia sendiri dulu juga punya pandangan yang mirip, sampai dia diajari tentang hakikat Eros oleh seorang perempuan bijak dari Mantinea bernama Diotima.

Sokrates kemudian memutuskan untuk menyampaikan ulang apa yang pernah diajarkan Diotima kepadanya.

Pertama, Eros itu bukanlah dewa yang agung seperti yang dipikirkan banyak orang, tetapi juga bukan makhluk fana. Dia adalah seorang daimon, yaitu roh perantara yang berada di antara dewa dan manusia. Tugasnya adalah menyampaikan pesan, doa, dan kurban dari manusia kepada dewa. Begitu juga sebaliknya, dia bertugas menyampaikan perintah atau berkat dari dewa kepada manusia.

Kedua, Diotima menjelaskan asal-usul Eros dengan sebuah mitos alegoris. Pada pesta perayaan kelahiran Dewi Afrodit, Poros (Kebijaksanaan) yang sedang mabuk tertidur di taman Zeus. Penia (Keinginan) yang datang berharap mendapatkan sesuatu, kemudian berbaring di samping Poros dan mengandung Eros.

Karena itu, Eros mewarisi sifat kedua orang tuanya:

  • Dari ibunya, Penia, Eros selalu miskin, kasar, tidak punya rumah, dan selalu dalam keadaan membutuhkan.
  • Dari ayahnya, Poros, Eros itu pemberani, pemburu ulung, penuh akal, selalu merencanakan sesuatu, dan pencinta kebijaksanaan (filsuf).

Ketiga, Eros selalu berada di antara kebijaksanaan dan keinginan. Karena kebijaksanaan yang paling indah, Eros adalah seorang filsuf, seorang pencinta kebijaksanaan. Dia selalu mengejar apa yang indah dan baik, karena dia sendiri tidak memilikinya secara penuh.

Jadi, bagian pertama pidato Sokrates ini (berdasarkan pendapat Diotima) mengubah total pemahaman tentang Eros: dari dewa yang sempurna menjadi roh perantara yang dinamis, selalu dalam pencarian, dan merupakan perwujudan dari hasrat filosofis itu sendiri.

Sign up for free to join this conversation on GitHub. Already have an account? Sign in to comment