Setelah menjelaskan siapa sebenarnya Eros itu (seorang daimon, anak Poros dan Penia), Sokrates melanjutkan pemaparan ajaran Diotima tentang fungsi atau tujuan Cinta (Eros). Buat apa sih cinta itu ada?
Menurut Diotima, semua manusia pada dasarnya "hamil", baik secara fisik maupun secara jiwa. Cinta (Eros) adalah hasrat untuk melahirkan sesuatu dalam keindahan. Kenapa dalam keindahan? Karena yang Ilahi itu indah. Kelahiran adalah cara makhluk fana berpartisipasi dalam keabadian.
Jadi, cinta itu bukan sekadar hasrat akan yang indah, melainkan hasrat untuk berkreasi dan melahirkan sesuatu yang abadi melalui keindahan. Ini bisa berupa melahirkan anak secara fisik, atau "melahirkan" gagasan, karya seni, hukum, dan kebajikan secara spiritual atau intelektual. Semuanya adalah upaya untuk mencapai keabadian.
Nah, bagian paling terkenal dari ajaran Diotima adalah konsep tentang bagaimana seorang pencinta bisa naik tingkat dalam memahami dan mencapai Keindahan tertinggi. Ini sering kali disebut Tangga Cinta atau "Pendakian Sang Pencinta". Prosesnya kira-kira begini:
- Mencintai Satu Tubuh Indah: Awalnya, seseorang tertarik pada keindahan fisik satu orang tertentu. Dari cinta ini, dia terinspirasi untuk menghasilkan pikiran-pikiran atau percakapan-percakapan yang indah.
- Menyadari Keindahan Semua Tubuh: Kemudian, dia akan sadar bahwa keindahan yang ada pada satu tubuh itu sebenarnya mirip atau bersaudara dengan keindahan yang ada pada tubuh-tubuh lain. Kesadaran ini membimbingnya untuk menjadi pencinta semua tubuh yang indah, dan hasratnya pada satu orang tertentu pun berkurang intensitasnya.
- Mencintai Keindahan Jiwa: Setelah itu, dia akan mulai lebih menghargai keindahan jiwa daripada sekadar keindahan badan. Dia bisa mencintai seseorang dengan jiwa yang indah meskipun badannya mungkin kurang menarik. Cinta pada tahap ini akan mendorongnya untuk mendidik dan mengembangkan jiwa sang pemuda, menghasilkan diskusi tentang kebajikan.
- Mencintai Keindahan Aktivitas dan Institusi: Dari keindahan jiwa, pandangannya meluas. Dia mulai melihat dan mencintai keindahan dalam berbagai aktivitas manusia, dalam hukum, dalam institusi sosial yang tertata baik, dan dalam tradisi yang luhur.
- Mencintai Keindahan Ilmu Pengetahuan: Selanjutnya, dia akan diarahkan pada keindahan berbagai jenis ilmu pengetahuan. Dengan mempelajari banyak ilmu, dia tidak lagi terpaku pada satu jenis keindahan saja, tetapi bisa melihat lautan keindahan yang luas dalam dunia intelektual.
- Melihat Keindahan Absolut): Inilah puncak pendakian! Setelah melalui semua tahapan itu, sang pencinta akhirnya akan sampai pada penglihatan langsung akan Keindahan Absolut. Ini adalah Bentuk Keindahan yang murni, abadi, absolut, tidak berubah, tidak tercampur dengan apa pun. Ini adalah sumber dari segala sesuatu yang indah.
Menurut Diotima, hanya ketika seseorang mencapai kontemplasi Keindahan Absolut inilah dia bisa "melahirkan" kebajikan yang sejati (bukan sekadar bayangan kebajikan). Ketika bersentuhan dengan yang benar-benar indah dan Ilahi, sang pencinta menjadi abadi dan dicintai para dewa.
Jadi, bagi Sokrates (melalui Diotima), Eros adalah pemandu dalam sebuah perjalanan filosofis yang luar biasa. Perjalanan ini membawa jiwa dari ketertarikan fisik biasa menuju kontemplasi intelektual dan spiritual tertinggi akan Keindahan Abadi, yang merupakan tujuan akhir dari cinta dan filsafat.