Selamat datang di salah satu diskusi paling melegenda tentang cinta dan keindahan dalam sejarah pemikiran manusia: Simposium karya Plato. Kalau kamu pernah bertanya-tanya apa sih sebenarnya cinta itu, kenapa manusia selalu mengejarnya, atau bagaimana keindahan bisa menggerakkan jiwa, percayalah, kamu tidak sendirian. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah dibicarakan ribuan tahun lalu oleh para filsuf Yunani Kuno. Plato, melalui Simposium, merekamnya dengan cara yang luar biasa.
Plato (atau Sokrates sebagai tokoh utamanya) sendiri adalah salah satu filsuf terbesar yang pernah ada. Gagasan-gagasannya telah membentuk dasar bagi banyak pemikiran Barat selama berabad-abad. Simposium, yang ditulis sekitar abad ke-4 SM, adalah salah satu dialognya yang paling terkenal dan berpengaruh. Kenapa? Karena di dalamnya, Plato tidak hanya menyajikan satu definisi cinta, tetapi mengajak kita menjelajahi berbagai perspektif, mulai dari yang paling duniawi hingga yang paling luhur dan spiritual.
Buku yang sedang kamu baca ini adalah sebuah upaya "penulisan ulang" dari Simposium. Tujuan kami sederhana: menyajikan kembali mahakarya ini dalam bahasa Indonesia yang lebih segar, santai, dan mudah dicerna, terutama bagi kamu yang mungkin baru pertama kali berkenalan dengan dunia filsafat. Kami percaya, ide-ide besar tidak harus disampaikan dengan cara yang rumit atau kaku.
Dalam buku ini, kami berusaha setia pada alur dan gagasan inti dari setiap pidato yang disampaikan para tokoh dalam Simposium. Kami menyajikannya bab per bab secara objektif, tanpa menambahkan interpretasi pribadi atau analisis mendalam dari sudut pandang lain. Kami fokus pada bagaimana membuat cerita dan argumen-argumen filosofis ini "mengalir" dan "enak dibaca". Kami membuat kalimat dan paragraf yang ringkas serta gaya bahasa yang lebih dekat dengan pembaca masa kini.
Kamu akan diajak "hadir" dalam sebuah pesta makan malam di Atena kuno. Kamu akan mendengarkan langsung pidato-pidato Faidrus, Pausanias, Erisimakhus, Aristofanes, Agaton, dan tentu saja Sokrates.
Dalam pesta ini Sokrates menyampaikan ajaran Diotima tentang hakikat Eros dan "Tangga Cinta" menuju Keindahan Abadi.
Setelah Sokrates selesai berpidato, tiba-tiba Alkibiades yang sedang mabuk masuk ke dalam ruangan dan ingin pula berpidato. Dia menjadi pembicara terakhir dalam kontes pidato tersebut. Namun, Alkibiades tidak berpidato tentang Eros, dia berpidato tentang Sokrates yang menjadi pujaannya.
Semoga dengan membaca buku ini, kamu tidak hanya mendapatkan gambaran tentang isi Simposium. Kami juga berharap kamu merasakan percikan semangat berfilsafat. Semangat itu adalah bertanya, merenung, dan mencari makna lebih dalam tentang cinta, keindahan, serta eksistensi manusia.
Selamat menjelajah!