- Kata Pengantar
- Pembuka
- Bab 1: Pesta di Rumah Agaton
- Bab 2: Pidato Faidrus
- Bab 3: Pidato Pausanias
- Bab 4: Pidato Erisimakhus
- Bab 5: Pidato Aristofanes
- Bab 6: Pidato Agaton
Nah, kita telah sampai pada akhir perjalanan ini. Kamu, para pembaca, juga telah menyusuri berbagai gagasan memukau tentang Cinta (Eros) dalam Simposium karya Plato.
Kita sudah melihat banyak hal. Ada pujian puitis dari Agaton dan mitos unik Aristofanes. Lalu, analisis medis Erisimakhus serta pembedaan dua jenis Eros dari Pausanias. Semangat heroik Faidrus juga kita simak. Puncaknya adalah pendakian filosofis melalui ajaran Diotima yang disampaikan Sokrates. Semua itu ditutup dengan intervensi dramatis dari Alkibiades.
Dari keseluruhan dialog tersebut, kita dapat melihat betapa kaya dan beragamnya cara manusia Yunani Kuno mencoba memahami satu kekuatan paling fundamental dalam kehidupan.
Buku ini kami sajikan sebagai upaya kami menghadirkan kembali dialog klasik tersebut. Kami menuliskannya kembali dalam balutan bahasa yang lebih segar dan mudah dipahami. Tujuan utama kami adalah menyajikan pemikiran asli para tokoh Simposium.
Halo, para pencinta kebijaksanaan dan pembaca yang budiman!
Selamat datang dalam sebuah perjalanan unik bersama kami! Kita akan menyelami salah satu karya paling ikonik dalam sejarah filsafat: Simposium karya Plato. Buku yang ada di hadapanmu ini adalah sebuah upaya "penulisan ulang" yang kami (Ravi dan Sarina) lakukan dengan semangat untuk membuat gagasan-gagasan besar di dalamnya terasa lebih dekat, lebih mudah dicerna, dan lebih "hidup" untuk pembaca masa kini.
Kenapa Simposium? Karena dialog kuno ini, yang mengisahkan serangkaian pidato tentang hakikat Cinta (Eros) di sebuah pesta makan malam di Atena, tetap relevan hingga ribuan tahun kemudian. Tema cinta, keindahan, hasrat, dan pencarian makna adalah tema abadi yang selalu menarik untuk direfleksikan.
Dalam buku ini, kami berusaha menyajikan kembali percakapan dan pidato-pidato dalam Simposium secara objektif, bab per bab, mengikuti alur aslinya. Kami mencoba menggunakan bahasa Indonesia yang baku **tet
Selamat datang di salah satu diskusi paling melegenda tentang cinta dan keindahan dalam sejarah pemikiran manusia: Simposium karya Plato. Kalau kamu pernah bertanya-tanya apa sih sebenarnya cinta itu, kenapa manusia selalu mengejarnya, atau bagaimana keindahan bisa menggerakkan jiwa, percayalah, kamu tidak sendirian. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah dibicarakan ribuan tahun lalu oleh para filsuf Yunani Kuno. Plato, melalui Simposium, merekamnya dengan cara yang luar biasa.
Plato (atau Sokrates sebagai tokoh utamanya) sendiri adalah salah satu filsuf terbesar yang pernah ada. Gagasan-gagasannya telah membentuk dasar bagi banyak pemikiran Barat selama berabad-abad. Simposium, yang ditulis sekitar abad ke-4 SM, adalah salah satu dialognya yang paling terkenal dan berpengaruh. Kenapa? Karena di dalamnya, Plato tidak hanya menyajikan satu definisi cinta, tetapi mengajak kita menjelajahi berbagai perspektif, mulai dari yang paling duniawi hingga yang paling luhur dan spiri
Pidato Alkibiades yang penuh semangat dan sangat personal itu tentu saja disambut dengan tawa dan riuh rendah oleh para tamu. Setelah dia selesai berbicara, suasana menjadi lebih cair dan minum-minum pun berlanjut.
Tidak lama kemudian, pintu kembali digedor! Sekelompok besar orang mabuk lainnya menyerbu masuk ke pesta. Suasana yang tadinya sudah mulai kembali ke diskusi filosofis (meskipun diselingi canda Alkibiades) kini berubah total menjadi hiruk-pikuk khas pesta yang sudah larut malam dan tamunya banyak yang mabuk berat. Banyak yang dipaksa minum lebih banyak lagi.
Dalam kekacauan ini, Aristodemus (sumber cerita kita) mengaku bahwa dia sendiri akhirnya ketiduran. Dia tidur cukup lama karena malam sudah sangat larut.
Ketika Aristodemus terbangun, ayam jantan sudah mulai berkokok, menandakan fajar akan segera tiba. Dia melihat beberapa tamu sudah pulang atau tertidur pulas di tempat mereka. Namun, yang menarik, dia melihat Sokrates, *
Tepat ketika semua orang sedang memuji pidato Sokrates yang mendalam, suasana pesta tiba-tiba berubah! Ada suara gaduh di pintu depan, disusul dengan munculnya Alkibiades. Dia datang dalam keadaan sangat mabuk, dipapah oleh seorang pemain suling perempuan dan beberapa temannya. Kepalanya dihiasi mahkota bunga ivy dan violet yang tebal. Dia membawa banyak pita dan mengalungkannya kepada Agaton, sang pemenang.
Dengan suara keras khas orang mabuk, Alkibiades mengucapkan selamat kepada Agaton. Dia kemudian duduk di antara Agaton dan Sokrates (setelah sedikit drama karena dia awalnya tidak melihat Sokrates!). Begitu melihat Sokrates, dia langsung berseru kaget. Suasana jadi sedikit tegang tetapi juga lucu.
Alkibiades, dengan gayanya yang seenaknya, langsung mengambil alih peran sebagai pemimpin perjamuan minum. Dia memaksa semua orang untuk minum anggur lebih banyak lagi, kecuali Sokrates, yang katanya
Setelah menjelaskan siapa sebenarnya Eros itu (seorang daimon, anak Poros dan Penia), Sokrates melanjutkan pemaparan ajaran Diotima tentang fungsi atau tujuan Cinta (Eros). Buat apa sih cinta itu ada?
Menurut Diotima, semua manusia pada dasarnya "hamil", baik secara fisik maupun secara jiwa. Cinta (Eros) adalah hasrat untuk melahirkan sesuatu dalam keindahan. Kenapa dalam keindahan? Karena yang Ilahi itu indah. Kelahiran adalah cara makhluk fana berpartisipasi dalam keabadian.
Jadi, cinta itu bukan sekadar hasrat akan yang indah, melainkan hasrat untuk berkreasi dan melahirkan sesuatu yang abadi melalui keindahan. Ini bisa berupa melahirkan anak secara fisik, atau "melahirkan" gagasan, karya seni, hukum, dan kebajikan secara spiritual atau intelektual. Semuanya adalah upaya untuk mencapai keabadian.
Nah, bagian paling terkenal dari ajaran Diotima adalah konsep tentang bagaimana seorang pencinta bisa naik tingkat dalam memahami d
Setelah pujian Agaton yang begitu indah dan berbunga-bunga untuk Eros, semua mata kini tertuju pada Sokrates. Dia dikenal dengan cara berpikirnya yang kritis dan sering kali berbeda. Apakah dia akan setuju dengan gambaran Eros yang sempurna ala Agaton?
Ternyata, Sokrates memulai dengan gayanya yang khas: bertanya, bukan langsung berpidato. Dia memuji pidato Agaton sebagai pidato yang hebat, tetapi kemudian dengan santai dia mulai "menguji" argumen Agaton lewat serangkaian pertanyaan.
"Agaton," kata Sokrates, "kamu tadi mengatakan bahwa Eros itu adalah cinta akan sesuatu yang indah, dan bahwa Eros itu sendiri adalah indah dan baik, kan?"
"Benar," jawab Agaton.
Setelah Aristofanes selesai dengan mitosnya yang unik, tiba giliran sang tuan rumah, Agaton, menyampaikan pidatonya. Sebagai seorang penyair tragedi yang baru saja menang kompetisi, tentu ada ekspektasi tinggi terhadap pidatonya. Benar saja, Agaton menyampaikannya dengan gaya yang sangat indah dan puitis.
Agaton memulai dengan pendekatan yang berbeda. Dia merasa para pembicara sebelumnya lebih banyak membahas manfaat atau efek dari Eros, tetapi belum benar-benar menjelaskan siapa atau seperti apa sifat dasar sang dewa itu sendiri. Nah, Agaton ingin fokus ke sana: menjelaskan karakter dan kualitas Eros.
Pertama, menurut Agaton, Eros itu pastilah dewa yang paling muda di antara semua dewa. Kenapa? Karena Eros selalu lari dari usia tua dan selalu senang berada di antara kaum muda. Dia juga pasti yang paling cantik dan rupawan, karena dia membenci keburukan dan hanya tertarik pada keindahan. Logis, kan, ka
Setelah Erisimakhus selesai dengan penjelasannya yang ilmiah dan kosmis, kini giliran Aristofanes sang penulis komedi. Cegukannya sepertinya sudah sembuh berkat saran sang dokter. Dia siap menyajikan pandangan yang benar-benar berbeda tentang Eros. Bukan analisis filosofis atau medis, melainkan sebuah cerita, sebuah mitos!
Aristofanes memulai dengan mengatakan bahwa untuk memahami kekuatan Eros, kita harus tahu dulu bagaimana sifat asli manusia pada mulanya. Menurut ceritanya, zaman dahulu kala, manusia itu tidak seperti sekarang. Bentuk asli kita itu bulat! Bayangkan saja, seperti bola, dengan dua wajah berlawanan arah di satu kepala, empat tangan, empat kaki, dan dua set alat kelamin.
Dia menjelaskan bahwa jenis kelamin manusia purba ini ada tiga macam, bukan dua seperti sekarang:
- Jenis laki-laki murni (berasal dari matahari).
- Jenis perempuan murni (berasal dari bumi).
- Jenis androgini atau laki-laki-per